Terimakasih Sudah Berkunjung

Aksi Duta Damai Mewarnai Indonesia di Tebing Breksi Yogyakarta

30 Oct 2017

Minggu 29 Oktober 2017 ada acara Festival Mewarnai Indonesia bertajuk Pemuda, Budaya dan Teknologi yang berlokasi di Taman Tebing Breksi, Prambanan. Acara tersebut adalah rangkaian peringatan hari sumpah pemuda dan sekaligus perayaan satu tahun Duta Damai Dunia Maya regional Yogyakarta.

Sekilas Tentang Duta Damai Dunia Maya

Anda masih asing dengan apa itu Duta Damai Dunia Maya? Duta damai ini semacam pasukan yang beranggotakan anak-anak muda dengan kemampuan menulis/ bloger, Desain Komunikasi Visual (DKV) dan Teknologi Informatika yang dibentuk oleh BNPT. Tujuan dibentuknya Duta Damai Dunia Maya ini adalah untuk memproduksi konten kontra porpaganda (konten positif) dalam upaya memerangi konten radikalisme dan terorisme serta hoax (konten negatif). Duta Damai Dunia Maya ini sendiri tidak hanya di Yogya saja tapi juga ada diberbagai kota wilayah Indonesia.

Duta Damai itu pun gak hanya aktif dalam kegiatan dunia maya saja tapi juga berupaya menyeimbangi dengan aneka kegiatan offline salah satu contohnya adalah Festival Mewarnai Indonesia pada Minggu 29 Oktober 2017. Meski bertajuk Pemuda, Budaya dan Teknologi tapi semua nampak dikemas secara apik nan kekinian mulai dari tempat hingga rangkaian isi acaranya.

Sebagian pemuda masa kini mungkin kalau dengar kata budaya pikirannya langsung “ah kuno”, kalau dengar kata teknologi pasti pikirannya langsung “selfie, like, komen, ketik amin, share dan sekitarnya”. Kalau dengar kata piknik langsung nyahut “yuk, kapan kita kemana”.

Tau Tebing Breksi kan? Ini adalah salah satu tempat wisata yang mulai ngehit di Yogya, lokasinya mudah dijangkau dan pemandangan yang disuguhkan pun sangat memukau karena pengunjung bisa melihat candi Prambanan dan hamparan kota Yogya yang terpampang nyata.

Kemarin Aku sengaja berangkat dari rumah (Klaten) dipagi hari dan sesampainya dilokasi masih sepi sehingga bisa menikmati pemandangan dengan nuansa yang cukup hening dimana tebing breksi itu serasa milik sendiri. Dari atas pun terlihat para panitia Festival Mewarnai Indonesia masih sibuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Jemparingan Manunggal Rasa Tamtama

Acara dimulai dengan kegiatan jemparingan dari pagi (pukul 08:00 WIBV) hingga siang (pukul 12:00WIB). Apa itu jemparingan? Jeparingan adalah kegiatan panahan, dimana panahan itu sendiri kini menjadi salah satu olahraga yang mulai digemari dikalangan masyarakat namun yang namanya jemparingan ini beda dengan yang lain. Ciri khas dari jemparingan itu ada tiga yakni:

- Panahan dengan posisi duduk bersila
- Target panahan berupa silinder dengan panjang 30 cm, diameter 3 cm dan digantungin dengan tinggi 160 cm dari permukaan tanah.
- Menggunakan busana tradisional, kalau di Yogya ya pakainya surjan, blangkon, jarik serta keris.

Mungkin ada yang mikir “halah panahan itu tinggal tarik anak panah dari tali busurnya terus lepas dan mak jleb….”, kenapa harus ribet gitu??? Gini loh ya, yang namanya jemparingan itu bukan hanya soal tehnik tapi juga soal olah rasa jadi gak hanya modal ngawur gitu doang. Misal tuh sasarannya didepan tapi duduk silanya hadap samping kanan, lalu mak settt… kepalanya miring mengarah kesasaran, badan rilex, terus yang ditutup cukup mata sebelah kiri saja soalnya kalo ditutup dua-duanya entar gelap -hahaha-. Kenapa yang ditutup bukan mata kanan? Efeknya entar beda, pokoknya nurut aja bahwa yang lebih afdol itu tutup mata kirinya.

Sebagai gambaran lihat gambar dibawah ini, mereka pakai kostum sedemikian rupa, targetnya yang nampak seperti garis-garis putih itu loh ya, bukan yang hamparan hitamnya. Kalau anak panah nyrempet atau tepat sasaran entar bakalan bunyi mak cringgg…cringgg…cringg… karena ada lonceng kecilnya.

Bapak yang blangkonnya ditancepin bendera kecil putih itu karena tadinya ada satu tembakan yang mengenai target. Terus katanya duduk sila, tapi itu kok ada yg duduk kayak pesinden? Itu emak-emak sih, anggap aja itu duduk sila versi emak-emak.

Nah setelah bapak-ibu anggota komunitas jemparingan itu praktek, tiba saatnya para penonton atau pengunjung dikasih kesempatan untuk nyoba jemparingan. Tadinya panitia menginformasikan kalau mau nyoba jemparingan cukup ngasih uang kas 20K doang, awalnya pengunjung sungkan tapi begitu bapak-ibu itu bilang gratis langsung rebutan nyobain. (*bapak-ibu komunitas jemparingan itu paham betul bahwa pemuda jaman now sukanya gratisan, hahaha…).

Ya itulah gambaran singkat kegiatan panahan dari komunitas Paseduluran Jemparingan Manunggal Rasa Tamtama hadir dari rasan-rasan warga RT 01 RW 07 Mejing Wetan Desa Ambarketawang Gamping Sleman. Dengan kegiatan jemparingan ini pengunjung terutama kaum muda dikenalkan dengan kegiatan panahan yang mengandung unsur olahraga dan juga seni budaya.

Hiburan Lain, ada Musik hingga Sendratari

Setelah acara jemparingan usai, acara selanjutnya adalah istirahat, acara kembali dilanjutkan sore hari. Kok istirahatnya lama? Ya iya, kan ngasih kesempatan buat sang mentari lewat dulu. Menjelang senja dengan suasana yang cerah langsung disuguhi lagu-lagu romatis dari Felix, Rama and friends. Penyanyinya itu ada Kikan juga, ada juga pacem in terri’s choir yang mengcover lagu-lagu bernuansa perdamaian. Semakin malam acara semakin menarik terlebih ketika ada pertunjukan sendratari.

Mungkin ada yang mikir “hah, sendratari bikin ngantuk”, gitu? Jangan salah, pertujukan dari Anterdans, Icipili Mitirimin, dan Swastika ini beda apalagi Kikan juga ikut kolaborasi. Anak muda nonton gak bakalan bosan karena memang sangat menarik dan menghibur.

Penandatanganan Deklarasi Damai

Nah lepas dari segala hiburan itu ada moment yang sangat penting yakni penandatanganan deklarasi damai sebagai pertanda bahwa pemerintah Yogyakarta sangat mendukung gerakan Duta Damai Dunia Maya untuk memperbanyak konten positif dalam upaya deradikalisasi.

Makna sederhana yang bisa dipetik dari serangkaian acara Festival Mewarnai Indonesia ini adalah pemuda di era teknologi harus tetep menjunjung tinggi budaya dan budi pekerti. Mirisnya saat ini terutama didunia maya banyak yang sekedar eksis, suka nyinyir apalagi ikut menebar hoax. Para generasi muda memang tak seharusnya lupa akan budaya dan jangan sampai kebiasaan berteknologi yang buruk justru menjadi budaya baru yang mematikan budi pekerti dan hati nurani. Antara pemuda, budaya dan teknologi harusnya bisa berpadu untuk mewarnai Indonesia dengan karya-karya yang positif dan menginspirasi.

Salam ketak-ketik,
dr Pojokan

 


TAGS Pendidikan Ketik Berita

  • BENARKAH HEWAN KEPIK EMAS LANGKA dan MAHAL? Inilah Faktanya!

  • BENARKAH BUAH CIPLUKAN OBAT SEGALA PENYAKIT HINGGA HARGANYA SANGAT MAHAL?

  • SEBEL PULSA HABIS TANPA SEBAB? INILAH CARA TERMUDAH UNTUK STOP ATAU UNREG!

  • Ternyata Tak Semua Ulat Menjadi Kupu-Kupu, Lihat Perubahan Ulat Ini Kamu Pasti Kaget!

  • Menakjubkan! Ada Penampakan Wajah Ditubuh Laba-laba ini, Coba Lihat Menurutmu Ada Berapa Bentuk Wajah?

  • Kisah Angelina Sondakh Semakin Religius: Khatam Alquran Berkali-kali & Berjilbab

  • TEBAT WISATA TEBING BREKSI, COBA LIHAT ADA APA DISINI?

  • Habiskan 1 M, Ini Wajah Asli Nita Talia Sebelum dan Sesudah Operasi Plastik!

  • Pernah Bangkrut Baim Wong Tak Kapok Bisnis Jualan Mie Ayam Lagi

  • Waduh, Artis Pemeran Wiro Sableng Bangkrut Karena Narkoba dan Kini Jadi Petani

  • BAKPIA PRICESS CAKE MILIK SYAHRINI, Apakah Rasanya Secetar Pemiliknya?

  • Tutorial Jilbab Pashmina Gaya Ala Wanita Turki Hanya 3 Langkah Mudah Hasil Cantik Elegan!

  • Trik Pakai Jilbab Agar Wajah Terlihat Tirus, Hanya 3 Langkah Ayo dicoba!

  • 3 Langkah Mudah Pakai Jilbab Segiempat Simple Tapi Cocok Buat Semua Tipe Wajah

  • Tutorial Hijab Modern Khimar Instan Gaya Syar'i Hanya 3 Langkah Mudah Hasilnya Modis

  • 4 Langkah Mudah Pakai Jilbab Segi Empat Ala Laudya Cynthia Bella


  • -

    Search

    Author

    Widhawati
    Twitter @mbak_widha || Instagram @widhawatitok

    Recent Post