Terimakasih Sudah Berkunjung

Dibalik Keributan PR MATEMATIKA Anak Kelas 2 SD di Facebook

23 Sep 2014
  • Cara Mudah Cantik Alami Dengan Minyak Bulus Mamasean Asli

  • pr-matematika-anak-kelas-2-sd-heboh-di-facebookBeberapa hari belakangan ini wall facebook dipenuhi dengan share PR Matematika anak kelas 2 SD. Kalo aku sih di facebook gak share dan gak komen juga tentang itu, tapi kalo sekilas aku lihat sih banyak yang komen itu gurunya **blok atau apalah gitu, karena kalo dilihat hasil akhir angka memang benar, tapi si guru mencoret itu dan memberikan versi jawaban yang terbalik, versi murid 4×6, versi guru 6×4. Di facebook aku bisa cuek, gak ikutan share atau ngributin tapi Dibalik Keributan PR MATEMATIKA Anak Kelas 2 SD di Facebook itu aku gak kuat untuk ketik sesuatu diblog, sebenarnya aku bingung mau ngomentari apa, tapi aku sempat mikir:

    Efek Zaman Sosmed
    Mungkin efek jaman sosmed gitu ya, orang-orang kini gampang meributkan sesuatu yang mungkin aslinya simple tapi jadi kemana-mana. Kadang gak tau aslinya kayak gimana tapi buru-buru ikut share dan komentar.

    Beban Guru Itu Berat
    Kalo dipandang enak ya mungkin enak karena kerjanya paling jam 7 sampai tengah hari doang, tapi dibalik itu kan guru itu tanggungjawabnya gede. Mereka dituntut untuk mengajari gimana supaya anak didiknya jadi pintar. Tapi gimana kalo kasusnya seperti Keributan PR MATEMATIKA Anak Kelas 2 SD di Facebook itu? mungkin si guru mengajarkan sesuai materi, tapi si kakak anak SD itu mengerjakan yang pokoknya hasil angkanya benar dan sama gitu kan? *aku binggung mau bilang apa, tapi dari sini aku mikir betapa beratnya beban guru, sudah ngajarin tapi kadang disalah-salahin.

    Yang Penting Proses atau Hasil?
    Dibalik Keributan PR MATEMATIKA Anak Kelas 2 SD di Facebook itu pula seolah memunculkan sebuah pertanyaan “Yang Penting Proses atau Hasil?”, orang mengartikan pasti berbeda. Kalo dalam kehidupan nyata pasti yang penting hasil soal proses gak masalah karena banyak jalan menuju roma katanya, jadi mau lewat mana aja toh sama-sama sampai ke roma gitu. Tapi dalam kehidupan mengerjakan soal disekolah pasti proses itu diulas secara detail, bahkan yang level atas pakai dimasuk-masukin pakai rumus atau apalah gitu, salah rumus tapi jawaban benar pun bisa jadi dianggap salah gitu kan. Pernah sekolah kan? masih ingat gimana dulu harus ngerjain soal dengan rapi gitu kan? walaupun dulu juga sempat terpikirkan “ngapain sih belajar kayak gini, emang nanti kalo kerja dipakai?” yah kalo cuma hasilnya yang dinilai, betapa enaknya matematika itu, tinggal bawa kalkulator bereslah sudah. Dan sekarang aku tau kenapa dulu waktu SD disekolah pakainya sempoa bukan kalkulator, karena mengajarkan logika atau nalar bukan cara atau hasil instans!

    Antara Konsep dan Konteks
    Bagi yang menyimak lebih lanjut kehebohan PR Matematika anak kelas 2 SD itu, pasti sudah membaca penjelasan versi orang-orang dibidang matemetika kan? Secara ringkas Dosen matematika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Rizky Rosjanuardi, menjelaskan:

    Secara garis besar dapat dipahami pengertian konsep berkaitan terkait sesuatu yang abstrak. Namun secara ilmu matematika, konteks menjadi hal yang jauh lebih penting. Dia mencontohkan 4 X 6 dengan soal cerita. Secara konsep diartikan bahwa ada empat orang membawa enam kantong kresek, hal tersebut berbeda dengan konteks yang diartikan bahwa ada enam orang membawa empat kantong kresek. Secara konsep, 6 kali 4 bisa berbeda, tetapi matematika tidak selamanya dikatakan konsep 6 kali 4 bisa berbeda. Itu mengapa terjadi, karena matematika dipaksakan konseptual. Menurutnya, permasalahan perbedaan tempat antara 4 dan 6 di soal siswa kelas 2 SD bukan hal yang urgen. Menjadi serius ketika guru memberikan pemahaman kontekstual terhadap konsep matematika anak SD. Karena siswa berpikir konseptual.

    Pantaskah untuk anak kelas 2 SD
    Kalo soal seperti itu tapi penjelasannya rumit gitu ya mungkin buat anak SD pusing tuju keliling tapi ya pinter-pinternya si guru menjelaskan, tapi mungkin kalo ngajarinya langsung saja tanpa mikirin “kenapa itu beda kan hasilnya sama” ya lain lagi ceritanya, misal 4+4+4+4+4+4 = … x …. = …. itu cara ngerjainnya angka 4 nya dihitung lebih dulu, jumlahnya ada berapa? ada 6 kan itu? angka 6 taruh depan baru angka 4 diisi dititik yang belakang, jadi nanti gini 4+4+4+4+4+4 = 6 x 4 = 24, gitu anak-anak. Atau gini, lihat disitu yang baris angka berapa? angka 4 kan, nah angka 4 tulis dulu di titik-titik yang dibelakang, terus itung angka empat yang baris ada berapa? 6 kan? taruh didepan, jadinya 4+4+4+4+4+4 = 6 x 4 = 24. *ah entahlah…gak bakat jadi guru SD aku, jadi blogger aja biar aman. Tapi kalo sebelumnya tidak dijelaskan cara mengerjakannya sehingga siswa bebas ngerjain sendiri ya gak salah juga sih kalo ada yang jawab 4+4+4+4+4+4 = 4 x 6 = 24.

    Pelajaran Bagi Wali Murid Ketika Ngajarin Anak, Adik, Keponakan atau sebangsanya
    Suatu saat ketika kita yang biasa hidup dalam kehidupan nyata dimintai ngajarin PR , setidaknya pelajari materinya pasti ada pentunjuk, jadi coba bantuin ngerjain sesuai dengan materi cara mengerjakannya, jangan maksain cara kita meski hasilnya sama, Gitu! Tapi gimana kalo gak ada materi atau pentunjuk cara ngerjainnya? sedangkan si anak beralasan atau ngeles disekolah belum diajari cara ngerjainnya? eaaaa… *mikir keras

    Ah… entahlah… yang pasti sih gara-gara Keributan PR MATEMATIKA Anak Kelas 2 SD di Facebook itu mungkin jadi banyak yang tau bahwa kalo ada soal 4+4+4+4+4+4 = … x …. = …. maka jawabnya 4+4+4+4+4+4 = 6 x 4 = 24 bukan 4+4+4+4+4+4 = 4 x 6 = 24, dari pelajaran anak SD jadi pelajaran untuk kita semua….intinya posisi itu mempengaruhi *eaaaa

    salam ketak-ketik,
    dr pojokan

    Baca postingan sebelumnya Cupuwatu Resto Tempat Kuliner Khas Jogja


    TAGS PR MATEMATIKA Anak Kelas 2 SD PR MATEMATIKA Anak Kelas 2 SD di facebook heboh PR MATEMATIKA Anak Kelas 2 SD

  • Tip Belanja Online Murah: Agar Gak Dapat Barang Super Mahal!

  • Ternyata Tak Semua Ulat Menjadi Kupu-Kupu, Lihat Perubahan Ulat Ini Kamu Pasti Kaget!

  • Menakjubkan! Ada Penampakan Wajah Ditubuh Laba-laba ini, Coba Lihat Menurutmu Ada Berapa Bentuk Wajah?

  • Heboh Nasib Sheila Marcia: Kini Tubuh Kurus, Banyak Tato & Tindik Bikin Nitizen Prihatin

  • Kisah Angelina Sondakh Semakin Religius: Khatam Alquran Berkali-kali & Berjilbab

  • Inilah Kisah Ngenes Pemain Sinetron Anak Jalanan Yang Sedang Hit Tapi Terjerat Narkoba

  • Oke Sip! KPI Larang TV Tampilkan Pria Bergaya Perempuan (Ngondek / Banci)

  • Habiskan 1 M, Ini Wajah Asli Nita Talia Sebelum dan Sesudah Operasi Plastik!

  • Makin Sepi Job Artis Antagonis 90'an Leily Sagita Kini Jualan Keripik Singkong

  • Mendadak Jadi Super Ganteng, Benarkah Sammy Simorangkir Operasi Plastik?

  • Glenn Fredly Bantah Pindah Agama Demi Aurah Kasih!!!

  • Asmirandah dan Jonas Tak Tampil Lagi Di TV Karena Sepi Job?

  • Apa Iya Afgan dan Rossa Pacaran? Kok Deket Banget ya?

  • Pernah Bangkrut Baim Wong Tak Kapok Bisnis Jualan Mie Ayam Lagi

  • Yannie Kim Orang Indonesia Yang Bikin Heboh Karena Ikut Main Drama Korea

  • Waduh, Artis Pemeran Wiro Sableng Bangkrut Karena Narkoba dan Kini Jadi Petani

  • Fahmi BO, Pemeran Gusur Sireal Lupus Kini Kesulitan Ekonomi, Tinggal Dikontrakan, Makan Mie Instans

  • Kisah Cinta Aming Dibongkar Dan Ternyata Istri Caisar Itu Mantan Kekasih Aming!

  • Siswa SD Goyang Seronok Saat Acara Pesta Perpisahan, Guru Justru Tertawa Seolah Terhibur!

  • Tutorial Jilbab Pashmina Gaya Ala Wanita Turki Hanya 3 Langkah Mudah Hasil Cantik Elegan!

  • Trik Pakai Jilbab Agar Wajah Terlihat Tirus, Hanya 3 Langkah Ayo dicoba!

  • 3 Langkah Mudah Pakai Jilbab Segiempat Simple Tapi Cocok Buat Semua Tipe Wajah

  • Tutorial Hijab Modern Khimar Instan Gaya Syar'i Hanya 3 Langkah Mudah Hasilnya Modis

  • 4 Langkah Mudah Pakai Jilbab Segi Empat Ala Laudya Cynthia Bella


  • Comment
    • Nov 2 years ago

      dulu ada test sipenmaru/umptn masuk ITB
      dengan pertanyaan no 1.

      1+1 adalah

      a. 2 b. 11 c. Tak terhingga

      Jawabannya adalah c (tak terhingga)
      karena
      1+1 adalah 2
      1+1 adalah dua angka 1
      1+1 adalah perhitungan mudah
      ..dll
      ..dll

      Kalau pertanyaannya 1+1=? jawabannya pasti 2

    • Abi Sabila 3 years ago

      Jujur, hal seperti ini pernah ditanyakan dosen di semester pertama, dan sebagian besar jawaban mahasiswa adalah keliru. kami menjadi paham setelah dosen menjelaskan, dengan beberapa analogi, salah satunya seperti aturan minum obat, 3 x 1 artinya kita minum obat tiga kali sehari masing-masing 1 butir. akan berbeda hasilnya , bahkan mungkin bisa berbahaya jika kita mengartikan minum obat satu kali sehari sebanyak 3 butir.
      Dan soal proses atau hasil, saya lebih sestuju dua-duanya, proses yang baik dan benar lebih dekat kepada hasil yang baik dan benar ( walau bukan sebuah jaminan ), dan hasil yang baik dan benar semestinya diperoleh dengan cara yang baik dan benar.

    • imanez 3 years ago

      heheheeh memang semua yang punya anak kelas 2 sd pada perotes.
      Aku juga nyalahin gurunya soalnya main silang aja. seharusnya guru juga punya etika kepada murid dan menghargai pekerjaan murid dengan cara memberitau soal kesalahan penulisan angka….
      saya kira guru juga harus banyak belajar cara penyampaiyan yang bijak.

    • jayboana 3 years ago

      sederhana tapi ngejlimet hehe

    • Joko S 3 years ago

      alangkah baiknya klo gurunya yang ngasih PR itu juga memberikan tanggapannya atas itu.

    • Siti Aisyah 3 years ago

      4+4+4+4+4+4 =
      Penjelasan
      1. 4 x 6, bilangan pokok dikali sebanyak suku yang ada
      2. 6 x 4, banyak suku dikali bilangan pokok
      3. a x b = b x a, Sifat komutatif

    • Janaka 3 years ago

      masa ea 4 x 6 atau 6 x 4 ja, profesor yg hrs turun tangan. Pantes ja koruptor ga ada yg bs tangani

    • Heru Purwanto 3 years ago

      Waktu saya sekolah dulu memang hasil sama belum tentu benar. Ada kalanya kalau tidak memperhitungkan proses atau caranya hasil sama boleh benar. Tetapi adakalanya yang dinilai itu penjabarannya atau proses yang bisa dikatakan berbelit sesuai petunjuk baku di buku yang berlaku saat itu tentunya.

    • wibiyana 3 years ago

      kemarin adek saya yang kelas 2 SD juga diajarin oleh orang tua saya sewaktu mengerjakan PR perkalian yang persis seperti bahasan di blog ini, dan hasilnya semua nomor disalahkan oleh gurunya, dan orang tua saya protes karena menurut mereka itu salah dan mereka yakin bahwa apa yang dulu diajarkan oleh guru mereka di masa lalu adalah kebalikannya, namun secara teori di buku pelajaran adik saya memang jelas tertulis bahwa jika 5+5+5+5 = 4 x 5 bukan 5×4
      kalau menurut saya, 5+5+5+5 juga bisa dibaca 4 kali angka 5 bukan kebalikannya

    • marcello 3 years ago

      Apa kabar pola belajar CBSA (cara belajar siswa aktif)…… ? ganti menteri ganti kebijakan. Mungkin perlu dicontoh pola pembelajaran negeri sebelah, Spore & Malaysia…..

    • masqured 3 years ago

      1+1=0 kenapa??

    • Rahmad 3 years ago

      COMPLETE EXPLANATION OF INDONESIAN ELEMENTARY STUDENT HOMEWORK PROBLEM

      4+4+4+4+4+4 ‘is’ six times of 4
      we CANNOT say it is four times of 6

      BUT

      Since the homework was asking for ‘equal’ rather than ‘is’

      4+4+4+4+4+4= ?

      note: math equal notation is “=”

      4+4+4+4+4+4 indeed is six times of 4 but it is EQUAL to four times of 6
      as well as EQUAL to three times of 8 as well as EQUAL to two times of 12 and many more..

      so..

      4+4+4+4+4+4 is EQUAL to 6×4 EQUAL to 4×6 EQUAL to 3×8
      in math notation we say

      4+4+4+4+4+4=6×4=4×6

      misunderstood of direct translation of ‘times of’ from english to Indonesian
      elementary school book might be the cause

    • gik 3 years ago

      4+4+4+4+4+4 dengan bhs jawa dibaca PAPAT ping ENEM DITULIS 4×6

      4+4+4+4+4+4 dalam bhs Ind dibaca ENAM kali EMPAT ditulis 6×4
      jadi masalah di atas adalah kebodhohan si mahasiswa tapi sok pintar padahal waktu SD nggak pernah perhatikan konsep. Dalam hatinya ndongkol masak saya mahasiswa teknik bisa salah ngerjakan PR anak SD. Kasihan… ternyata banyak yang nggak ngerti konsep Aljabar

    • Hardi 3 years ago

      Kalau soalnya 4+4+4+4+4+4=6×4… dibaca= enam kali empat.. benar deh..
      kalau soalnya 4+4+4+4+4+4=4×6… dibaca= empat sebanyak enam kali.. benar deh..

      ini masalahnya di transfer kata2 ke bahasa sehari2.. jadi itu soalnya sebenarnya kurang jelas kalau pakai angka saja.

      harusnya:
      4pensil + 4pensil + 4pensil + 4pensil + 4pensil + 4pensil
      =6×4pensil … dibaca= enam kali, empat buah pensil..
      maka ini sesuai format penulisan nota di dunia akuntansi dan perdagangan..

      dan anak didik ga harus bingung..

    • WOng bodho 3 years ago

      kalau bukan orang matematika pasti semua pakar akan menyalahkan gurunya.

    • serudo 3 years ago

      waktu anak saya kelas 2 atau 3 sd (saya lupa) juga juga mendapat pr matematika yang sama, saya menerangkannya sama spt gurunya habibi tersebut tapi hasilnya malah di salahkan.

    • free 3 years ago

      bu guru benar secara konsep matematika
      tapi salah jika dilihat dr hukum komutatif matematika .

    • dian 3 years ago

      Abdurahman : Untuk ukuran anak kelas 2 SD jawaban seperti itu menurutku harusnya tidak langsung disalahkan, kamu juga ga akan mengerti konsep a+a+a = 3a pada saat kelas 2 SD. Jadi jangan disamakan pola pikirmu sekarang dengan anak kelas 2SD.

    • yudha 3 years ago

      lucu ya, bukan cuma hasil akhir sih yang jadi masalah, masalahnya adalah 4+4+4+4+4+4 =4×6 bukan 6×4 karena yang bilangan dasarnya adalah 4 dan bilangan pengalinya adalah 6.., terlepas hasil akhirnya sama tapi jawaban si anak ini sudah benar. dengan 20 persen APBN, sertifikasi ini itu yang jadi miris adalah kualitas guru yang seperti seenaknya sendiri… sedih

    • yudibrewok 3 years ago

      samber gledeekkk,,,,zaman skg nie

    • sri 3 years ago

      share pengalaman aja

      Sy dosen ilmu2 sosial memiliki anak SD yang suka dengan matimatika dan alergi dengan ilmu2 sosial, termasuk soal matematika dalam bentuk esay membuat dia kritis….”ni repot banget soal” baginya menjawab dengan banar tanpa analisa/logika sudah cukup menghabiskan waktu apalagi beban PR yang cukup berat.

      menurut sy guru/pengajar menggunakan konsep “mengajari ilmu” sementara siswa/anak “mengamalkan ilmu” keduanya memiliki perbedaan yang tipis walaupun sama2 kata kerja.
      mengajari sama dengan menyampaiakan sesuai modul yang guru pahami, contoh lain mengajari baca Alquran sesuai dengan tata cara baca yang benar. sementara anak tingkat SD fokus pada mengamalkan baca alqurannya pastinya pahala mengamalkan lebih besar daripada mengajari. inilah ilustrasi pada soal matematika diatas.

      tentunya sikap guru lebih bijaksana jika tidak menyalahkan beitu saja kepada siswa yang mengamalkan ilmu sesuai dengan apa yang dipahami. karena anak saya juga akan stress kalau masalah letak ini dipersoalakan kita tau cara berpikikr dan logikanya belum sama dengan orang dewasa. terimakasi

    • mbah_jono 3 years ago

      tamu harap lapor 1×24 jam atau harap lapor 24×1 jam?

    • Pri 3 years ago

      PRnya adalah menhitung untuk mencari hasil akhir ,,jadi mau bolak balik tetap benar ,, akan beda kalau PRnya adalah konseptual jadi perlu pemahaman apalagi PRnya untuk cara minum obat dari dokter yg 3×1 sehari itu bukan PR matematik ,, lagi pula dalam setiap soal2 ujian yg tertera adalah hasil akhir ,, bagaimana bisa menerka jawaban ujian menggunakan perhitungan yg terbalik ??

    • arif 3 years ago

      Hidup sudah akhir. Matematika adalah Ilmu pasti!!! kenapa sekarang jadi Ilmu Logika???? begundal!!!!

    • Yohanes 3 years ago

      Sebagai masukan saja.

      Menurut pembaca dan pemberi komentar, manakah yang menurut anda sesuai logic dan mudah dipahami?

      2+2+2+4+4+2+2+4 = …
      a. 2×5 + 4×3 = 10+12 = 22
      b. 5×2 + 3×4 = 10+12 = 22

      Jika saya disuruh mengajarkan ke anak, maka saya akan mengajarkan cara yang (a).

      Alasan:
      Tulis dulu angkanya dari kiri 2, lalu hitung jumlahnya 5, ditambah, tulis dulu angka yang lain dari sisi kiri 4, lalu hitung jumlahnya 3. Maka tidak akan kesulitan untuk mengingat angka apa yang saya hitung tadi.

      Bagaimana pendapat anda semua?

    • matematika 3 years ago

      sesuaikan dengan jaman berpikirlah… mungkin gurunya model guru jaman dulu, uda tua dan terlalu note book.. konseptual banget,
      era sekarang serba praktis..
      saya yakin murid yang di ajarin dengan banyak cara mengerjakan soal akan lebih cerdas dibandingkan dengan anak dipaksa mengikuti cara konsepsual, apakah anak SDdi negara maju di ajarin seperti cara ibu buru ? saya yakin tidak !
      guru SD saya dulu tidak begitu.

    • Yohanes 3 years ago

      Sebagai akademisi, hal seperti ini harusnya diajarkan sejak kecil. Pemahaman vs hafalan adalah hal yang berbeda. Jika kita menanamkan hafalan, maka Guru ini benar. Tetapi jika kita menanamkan pemahaman sejak dini, 6×4 dengan 4×6 adalah sama.

      Kita harusnya menanamkan logika dan pemahaman, jangan hafalan. Karena ini hanya beda arti/cara penafsiran saja. Tetapi hasil akhirnya sama.

      4+4+4+4+4+4 = 4×6 = 24 (tulis dulu angkanya 4, lalu hitung jumlahnya 6)
      4+4+4+4+4+4 = 6×4 = 24 (hitung dulu jumlahnya 6, lalu tulis angkanya 4)

      Saya akan menjelaskan dengan cerita di atas, yang penting pemahaman dan hasil.

      Terima Kasih

    • yani 3 years ago

      kenapa kakak habibi curhat ke facebook, mungkin dia sudah bingung mau bertanya kepada siapa lagi, bertanya ke guru dijawab ngga, tapi malah dimarahin.

    • yani 3 years ago

      Kadang guru tidak menjelaskan ke murid, bila di tanya jawabnya ketus, nilai akhir penting karena menentukan anak itu naik kelas atau tidak.

    • Adji 3 years ago

      saya pikir gurunya terlalu malas menuliskan penjelasan, juga tidak memikirkan efek psikologis dari tindakannya.

      Padahal seharusnya mudah saja dia sekedar menuliskan “angka yang berulang posisinya di belakang” dan tidak memberikan nilai buruk, tapi menyuruh si murid memperbaiki. toh nilai PR seharusnya tidak menjadi parameter penilaian utama dalam buku rapor.

      Jadi guru itu berat, tapi tidak lalu menjadi alasan pengabaian tanggung jawab untuk mendidik murid agar MENGERTI yang diajarkan. Memberikan NILAI BURUK yang berpotensi membuat murid menjadi antipati terhadap mata pelajaran tertentu, merupakan SERANGAN PSIKOLOGIS yang tidak boleh dilakukan seorang pendidik.

      Keberhasilan seorang pendidik itu bukan saat muridnya memperoleh nilai sempurna, melainkan saat muridnya memahami dengan benar apa yang diajarkannya.

    • Irvan 3 years ago

      Dr SD dulu memang diajarinnya spt Sang Ibu Guru ajar kalo 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 6 x 4 krn 4 nya ada 6 bukan 6 nya yg ada 4.

      Saya pikir yg mengupload cm ingin menunjukkan bahwa ia bangga (kalo bkn krn sombong/riya) akan sikap kritis yg dimiliki oleh kakaknya di Habibi yg ngajarin adiknya tsb.

    • bro-ers 3 years ago

      ini saya kasih simple beberapa contoh sederhana.
      contoh : suatu saat anak saya di ajarkan oleh gurunya kalau untuk pulang kerumah lewat satu jalan itu.(anggap ini sistem matematika yg diterapkan gurunya). dan suatu saat jalan tersebut di tutup krn ada perbaikan jalan. dan bagaimana anak saya untuk menentukan jalan pulang? anak saya tidak akan pernah bisa pulang kerumah krn yg dia tau hanya satu jalan itu.(kalau mengikuti sistem matematika yg diterapkan gurunya).

    • adit 3 years ago

      kalo mnrt gw, sebenernya ini tergantung gurunya saat kasih penjelasan ke anak2 untuk jawaban soal ini, apa jawabannya perlu hasil saja atau dengan konsep matematikanya.

      kalau jwbn yg diperlukan termasuk konsep matematikanya maka gurunya memang benar, namun mengingat soal ini untuk anak kelas 2 SD alangkah lebih bijaknya jika penilaian untuk soal tsb dibagi rata : nilai 5 untuk jawaban konsep dan nilai 5 untuk jawaban hasil sehingga anak tsb dapat nilai 60, tidak membuatnya down dan guru bisa menjelaskan kenapa jawaban 4X6 dst tidak benar secara konsep matematika.

      tapi dari kejadian ini banyak hikmahnya juga lho, gw yakin banyak orang (dewasa) baru ngeh kalo dalam matematika, KONSEP TIDAK SAMA DENGAN HASIL, analogi dokter kasih resep obat tidak sembarangan 3×2 dengan 2×3 di resep obat bisa fatal akibatnya kalo kita ga paham konsep matematikanya hehehe

    • Andri 3 years ago

      Gurunya bener.
      Anaknya harus dikasih tahu.
      Makan obat 3×1 sehari sangat berbeda dengan
      makan obat 1×3 sehari.
      Kalo kayak gini aja gak ngerti, bisa2 overdosis kalo makan obat.
      Hehehehe.

    • wardana 3 years ago

      menurut gw.
      karena itu bukan soal cerita. sah2 aja mw 4×6 atau 6×4.

      meskipun soal cerita juga bener sih asal si anak bisa ngejelasin.
      contoh kresek.
      empat orang membawa enam kantong kresek, atau enam kantong kresek dibawa empat orang.

      yg bilang itu konseptual.
      cuk… cuk…
      anak mw jadi ilmuan kok dipaksa jadi pns.

    • pram 3 years ago

      a+a+a=3a bukan 3a tapi bagaimanapun hasilnya sama, kalau a=4 hasilnya tetap 12

    • pram 3 years ago

      seharusnya guru tidak langsung mencoret dan menyalahkan begitu saja, karena itu akan membuat kecewa si anak, padahal hasilnya benar. untuk murid kelas 2 SD tahunya jawabannya benar, jadi guru jangan merasa benar sendiri. saya sebagai orang tua juga bingung dan agak marah saat itu, waktu anak saya mengerjakan soal seperti kasus tersebut. seharusnya nilainya 100 tapi dapat 0 (NOL), protes ke gurunya, jawabannya pokoknya begitu, caranya tidak boleh dibolak balik. Dasarnya apa??? aturannya mana??? aturan siapa??? kalau 4+4+4+4+4+4 tidak sama dengan 4×6..???????

    • pauloz 3 years ago

      Maaf sebelumnya kalo ada pendapat saya yang tidak sepaham.
      Kalo saran cara guru menjelaskan seperti di atas, itu hanya menjelaskan cara menjawab soal, bukan memahami konsep perkalian. Kalau memang konsepnya salah, sudah seharusnya seorang guru mengatakan salah - mumpung masih sekedar menjawab soal PR - supaya saat menghadapi masalah yang lebih besar, si anak bisa membedakan yang benar dan salah. Toh pada akhirnya nanti ada sifat matematis yang menyatakan bahwa 3a = a3 seperti yang dinyatakan Abdurahman.
      Tapi maaf juga Abdurahman a+a+a = a3 hanya karena 3 adalah suatu yang pasti dan a adalah variabel maka secara penulisan dapat ditulis 3a karena sifat matematis menyatakan hasilnya adalah sama.(setahu saya sih gitu)

    • sasongko 3 years ago

      waduh mas satu hal yg saya tau pasti kalo ilmu matematika itu adalah ilmu pasti jadi dimanapun keadaannya 4×6 atau 6×4 itu hasilnya sama saja ya itu 24. dan lagi yang diajarkan itu kan ilmu matematika subtitusi jadi mau ditaruh didepan atau dibelakang hasilnya sama saja. kecuali kalau soal tersebut merupakan cerita, kemungkinan hasilnya pun berbeda. tapi saya dapet bocoran dari seorang guru senior memang kurikulum kita skrg itu sangat sulit sehingga seorang guru harus benar-benar memahami isi konteks dr pelajaran tersebut dan itupun bisa berbeda-beda pemahamannya jadi yah semoga direvisi kembali konsepnya dan sebelum memulai kurikulum baru hendaknya disosialisasikan dan dibuat pelatihannya terlebih dahulu.

    • abdurahman 3 years ago

      a+a+a=3a bukan a3.
      Ini sebuah konsep. Semoga adik bisa paham.

    • prayogie 3 years ago

      Kalo saya sih lbh logis jawaban si murid…pnjelasanya begini…contoh ketika ada angka 6 dijumlahkan dg angka yg sama sebanyak apapun maka angka tsb akan ditulis diawal..kemudian bnyaknya berapa kali angka tsb dijumlahkan diganti dg bilangan atau angka juga…hasilnya logika murid itu bagus…mgkn itu guru hasil dr kurikulum yg sdh diisi kaum emosional dan bkn rasional…

    • sunshine 3 years ago

      Kalau dengan pemahaman yang benar, anak pasti mengerti. Anakku bs memahami kenapa 6×4 atau 4×6, aku ajarin pakai contoh kasus dengan permainan congklak/dakon punya dia. Logika tidak bisa dipaksakan untuk dimengerti dengan angka, harus pakai simulasi. Jaman sekarang ortu dituntut ikut belajar juga :)

    • budi 3 years ago

      Ralat lagi ini baru bener ha ha ha

      4+4+4+4+4+4+4=4×6=24 < kelipatan 4 ya bener lah, itu guru bilang salah jangan2 gurunya gak lulus sekolah dasar gila bener

    • budi 3 years ago

      Ralat lagi ini baru bener ha ha ha

      4+4+4+4+4+4+4=4×6=24 < kelipatan 4 ya bener lah, itu guru bilang salah jangan2 gurunya gak lulus sekolah dasar gila bener

    • budi 3 years ago

      Ralat… gw jadi ikut2an bego

      4+4+4+4+4+4+4=46=24 < kelipatan 4 ya bener lah, itu guru bilang salah jangan2 gurunya gak lulus sekolah dasar gila bener

    • Dimas 3 years ago

      Saya juga mendukung tindakan guru tsb, asalkan beliau menjelaskan (lagi) pada anak didiknya. Konsep sepenting itu lebih baik dikuasai saat masih kecil. Makin besar anak itu, biasanya makin tidak peduli. Perhatiannya tersita oleh gadget, nongkrong-nongkrong, jalan-jalan dan pacaran.

      Sebagai manajer, saya menjumpai betapa “payah” logika hitungan karyawan zaman sekarang. Baru diberi info kantor seluas 12 m2 sewanya Rp 3 juta per bulan, sudah puyeng berapa “Harga Satuan” yang benar. Diberi tahu 1 dollar Rp 12 ribu, bingung seribu rupiah berapa dollar. Mau menyalahkan siapa? Kampus? Orangtua? Faktanya orang yang otaknya begini bisa lulus, cari kerja. Alangkah pentingnya peran guru dalam menjelaskan hal ini - supaya kelak si anak jangan jadi beban masyarakat dan dunia usaha.

    • elzan 3 years ago

      bangsa indonesia skrg sdg sakit… semua hobby membully, jangankan anak sd atau guru sd… ampe caprespun kmrn dibully habis oleh bangsanya sendiri.
      sudah kronis mental bangsa kita saat ini…

    • Aden Atah 3 years ago

      Efek Zaman Sosmed …. setuju banget
      Sampai para profesor harus turun tangan untuk menjelaskan

    • Zie 3 years ago

      Yang dilakukan oleh guru tsb, memang benar. Karena secara teknis memang seperti itu. Itu sesuai buku pegangan guru. Kalo secara praktek, boleh seperti yang difoto pengerjaannya. Dan maaf, alangkah lebih sopan dan saling menghargai antar sesama bila yang bersangkutan seyogyanya datang ke sekolah.. Bukankah, kita juga bisa membaca, menulis dan menghitung dari SD?? Mohon direnungkan bagi semua. Trims

    -

    Search

    Author

    Widhawati
    Twitter @mbak_widha || Instagram @widhawatitok

    Recent Post