Terimakasih Sudah Berkunjung

Misteri Di Balik Layar

17 Jan 2013

Image: courtesy wwwayodyapalacom

Awal Kisah by BlogCamp:

Tepuk tangan penonton Wayang Orang BlogCamp Budhoyo gemuruh. Kiprah Cakil yang lincah dan tehnik menghindari serangan yang dilakukan oleh Arjuno juga ciamik. Klimaks perang tanding antara satria bagus dengan raksasa bergigi mancung tampaknya akan segera tiba.

Cakil yang diperankan oleh Mudhoiso tampak menarik keris dari rangkanya. Sementara Rikmo Sadhepo yang ayu gandhes pemeran Arjuno melirik sambil senyum kemayu.

Tusukan keris yang mengarah dada dapat dielakkan oleh Arjuno sambil menyabetkan selendang kearah kepala Cakil. Raksasa bertingkah pencilakan itu muntap. Dengan gerakan bringas diarahkannya keris luk 9 itu ke arah perut Arjuno. Kini satria panengah Pendowo tak buang-buang waktu. Ditangkapnya pergelangan tangan Cakil lalu diputarnya dengan ujung keris mengarah ke tubuh sang raksasa. Cakil berusaha menghindar. Sreeeeet..ujung keris merobek leher Cakil.

Cakil menjerit keras, lalu ambruk. Arjuno meninggalkan palagan sambil tersenyum. Niyaga mengalunkan gending sampak. Layarpun diturunkan. Tepuk tangan penontonpun cethar membahana.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan bersahut-sahutan dari balik layar yang tertutup.

Inspektur Suzana yang sedang menonton pagelaran wayang orang itu segera lari menuju panggung. Disingkapkannya layar. Tubuh Mudhoiso tergeletak dengan wajah membiru, matanya melotot seolah menahan sakit. Darah mengalir dari lehernya. Dirabanya nadi laki-laki berkostum Cakil itu. Tak ada denyutan lagi. Mudhoiso telah tewas.

Kisah Selanjutnya by Ketak-Ketik Ide Sederhana:

Tanpa buang-buang waktu inspektur Suzana segera mengundang timnya untuk mengadakan olah TKP, tak butuh waktu lama untuk menduga siapa tersangkanya. Yah, betul! Rikmo Sadhepo lah yang diduga sebagai tersangka, karena semua sudah jelas, ketika dipanggung Mudhoiso tampil bersama siapa? Ia adu acting perang dengan siapa? Dan siapa yang mengarahkan keris itu ke tokoh raksasa yang diperankan oleh Mudhoiso?

Setelah pemeriksaan lebih dalam dan meski pemeriksaan terhambat karena Rikmo maagnya kambuh, tapi akhirnya Rikmo yang awalnya hanya diduga sebagai tersangka kini sudah ditetapkan sebagai tersangka. Dan meski palu hakim sudah berbicara namun Rikmo masih terus berdalih, tak mungkin keris yang disangkanya hanya aksesoris itu bisa membunuh lawan mainnya, ia pun terus berusaha menjelaskan kepada Inspektur Suzana:

Plis, Suz! Gue beneran gak ngebunuh dia, loe tau kan disetiap pertunjukan gak ada yang namanya senjata beneran, semua Cuma asesoris!

Eh, loe buta? Jelas-jelas itu keris beneran Rik!

Iya, tapi kan gue gak tau kalo itu keris beneran, gue taunya itu aksesoris, pasti ada yang ganti deh, harusnya loe usut dong siapa yang mengganti jadi keris beneran.

Sudahlah Rik, loe sudah jadi tersangka sekarang, karena semua yang ada di TKP tertuju pada loe.

“Ini, tidak adil, tidak adil, gue bukan pembunuh, gue bukan pembunuh!”, Itulah teriakan Rikmo sembari diseret menuju sel tahanan, sementara Inspektur Suzana kembali ke ruangannya.

Begitu didalam ruangan kerjanya Inspektur Suzana bukannya lega bahagia karena misteri dibalik layar itu sudah terpecahkan. Ia justru menangis, seakan tak percaya atas semua hasil yang ada, ia masih belum percaya kalau Rikmo lah pembunuhnya, meski ia didepan Rikmo bisa tegas namun sebenarnya hatinya tersayat-sayat.

Sementara Rikmo yang kini dibalik jeruji besi begitu syok, ia merasa bahwa dirinya tidak pernah membunuh siapapun dan dia juga tak menyangka ketika tidak ada pembelaan sedikit pun dari Inspiktur Suzana. Ia merasa terkianati dan mendapati ketidakadilan yang membuatnya harus menanggung hukuman atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan yaitu membunuh.

Baru 3 hari Rikmo mendekam didalam ruangan sempit itu tapi ia merasa seperti sudah tiga kali lebaran gak pulang-pulang, ia pun meminta si penjaga pintu besi untuk ketemu empat mata dengan Inspiktur Suzana. Setelah memohon-mohon, akhirnya penjaga pintu besi memberikan ia waktu lima menit. Ia pun berjumpa dengan Inspiktur Suzana.

“Hei Suz, gimana kabarnya?”, sapa Rikmo.

“Baik”, jawab Suzana dengan singkatnya.

“Tega ya Suz, kabar loe baik-baik saja sementara gue, gue menderita terkurung disana Suz”, balas Rikmo dengan kesal sambil menunjuk tempat ia dikurung.

“Itu derita loe, karena loe sudah melakukan kesalahan, ya loe harus tanggung akibatnya”, jelas Suzana dengan tegasnya.

“Gue gak salah, Suz! Kenapa sih loe begitu percaya kalo gue yang ngebunuh si Mudho, supah pocong deh, gue gak ada niatan sedikit pun untuk ngebunuh orang apalagi ngebunuh Mudho. Loe kenal gue gak sehari dua hari kan? Loe tau kan gue gimana? Plis Suz, lakukan sesuatu. Ingat Suz, gue tiap hari kerja keras, adu ekting, sampai kurus begini, ini semua untuk mempersiapkan masa depan kita Suz.”

“Waktu sudah habis!” ,teriak si penjaga besi. Rikmo pun kembali diseret kedalam selnya, ia masih sempat teriak-teriak.

Plis Suz, Loe flashback hubungan kita.

Inspektur Suzana kembali keruangan kerjanya yang adem, lagi-lagi ia menangis, ia tidak tahu harus percaya siapa, percaya hukum atau percaya Rikmo. Sementara Rikmo kembali menikmati ruangannya yang sempit nan panas, ia tidak tahu apa yang ada diotak Inspiktur Suzana yang sudah ia pacari bertahun-tahun. Bahan dalam waktu dekat ia akan menihakinya namun semua rencananya bakalan kandas karena ia harus mendekam dalam penjara dan parahnya kekasihnya itu seoalah tidak peduli.

Hingga malam tiba Rikmo serba gelisah, ia tidak bisa tidur hingga larut malam. Tiba-tiba Rikmo dikejutkan dengan sesosok cakil yang mendekat dan berdiri didepan pintu besi, cakil itu pun membuka topengnya sehingga terlihat jelas wajahnya oleh si Rikmo. Terlihat jelas oleh Rikmo wajah dibalik topeng itu adalah wajah Mudhoiso, Rikmo pun terpanah sembari memandang wajah Mudo yang terlihat tersenyum nyengir kearah Rikmo. Setapak demi setapak Rikmo mendekat ke pintu besi. Sosok Mudhoiso yang senyum nyengir itu pun menyapa Rikmo.

“Kenapa loe, Kaget?”

“Siapa Loe?”, tanya Rikmo seolah tak percaya.

“Pangling loe ama gue, berapa lama sih loe ngangkrem disitu, dah lupa ingatan aja.”

“Apa mau loe?”, lagi-lagi Rikmo bertanya.

“Mau gue, loe sama Suzana END! Seperti sekarang ini, hahahaha. Loe pikir waktu pentas itu keris aksesoris yah dan pastinya loe kaget kenapa bisa jadi keris asli hingga akhirnya bikin gue mati. Tau gak loe, siapa yang ganti keris itu? Gue! Gue yang ganti bro. Semua sengaja gue lakukan, biar seoalah-olah loe yang ngebunuh gue. Dan gue senang banget bro, apa yang gue rencanakan berjalan mulus. Meski gue akhirnya mati penasaran, namun gue bangga karena kini Loe ama Suzana End! End bro!”

“Sialan loe, licik. Salah gue apa?”, Rikmo kembali bertanya.

“Salah loe banyak bro, banyak banget! Loe tau kan gue suka sama Suzana, loe tau gue sudah berusaha untuk dapetin hati Suzana. Gue udah berusaha pedekate ke ortunya Suzana yang matre itu, sampe harta benda gue habis, tapi Suzana tetap gak mau terima gue dan itu semua karena ada loe. Jadi gue pikir dari pada gue menderita melihat loe berdua bersatu, mendingan gue mati penasaran melihat loe berdua end, end bro, end hahahahaha hahahaha hahahaha.”

“Sialan loe, gue sumpahin loe, membusuk di neraka.” Teriak Rikmo dengan kerasnya.

“Dan gue sumpahin loe, membusuk dipenjara, gimana fair kan? Hahaha hahaha hahaha.”

Suara tawa khas cakil itu pun lambat laun menghilang, begitu juga dengan penampakannya. Seketika itu Rikmo justru teriak-teriak sambil mengoyang-goyangkan pintu besi dihadapannya, seolah ia hendak merobohkan pintu besi yang kokoh itu.

Mudhoiso, awas loe!!!

Penjaga pintu besi pun terkejut, ia segera menghampiri Rikmo dan memperingatkan dia untuk tidak membuat keributan.

He,kamu! Kenapa berisik? Jangan bikin keributan, ini sudah malam.

“Dia pak, dia jebak gue, dia barusan kesini pak, dia sebenarnya bunuh diri pak”, jelas Rikmo sembari terengah-engah.

Ngigo, kamu! Dia-dia siapa, dari tadi disini tidak ada siapa-siapa!

Keesokan harinya Rikmo kembali menemui Inspektur Suzana untuk menceritakan apa yang terjadi semalam.

Suz, semalam Mudho dateng, dia bilang, dia memang sengaja ngejebak gue, yang ngeganti keris itu ya dia sendiri, sehingga jadinya seolah gue yang ngebunuh dia, padahal dia memang ingin bunuh diri, dia tidak suka liat kita bersatu jadi dia merencanakan semua ini, agar kita berpisah.

Halah, loe gila ya. Mudhoiso sudah jelas-jelas dikubur, dia mati ditangan loe, sekarang loe bilang semalem dia ngedatengin loe? Bener-bener gila loe. Sudahlah Rik, terimalah kenyataan. Loe harus terima semua ini, termasuk loe harus terima kenyataan bahwa kita memang tidak bisa bersama.

Inspektur Suzana pun menginggalkan Rikmo meski sisa waktu ngobrolnya masih 3 menit. Karena ia merasa cerita Rikmo itu sudah semakin tidak masuk akal. Sesampainya didalam ruangannya yang adem, lagi-lagi ia tak bisa membendung air matanya. Sebenarnya ia juga tidak rela menyaksikan orang yang hampir menjadi pedamping hidupnya itu kini dikurung ditempat dimana ia mengembangkan karirnya. Yang pasti akhirnya Rikmo tetap menjalani hukuman sesuai vonisnya dan hubungannya dengan si Inspektur pun tidak berlanjut. Lalu soal penampakan itu gimana, Apa itu benar? Benar atau tidak kembali pada keyakinan masing-masing, tapi kalo nekat percaya musyrik loh!!!!

Hukum tetaplah hukum, yang kadang tidak adil pada tempatnya.
Cinta tetaplah cinta, yang kadang tidak indah pada waktunya.
Misteri tetaplah misteri, yang kadang tidak jelas pada endingnya.

Sekian dan Tamat!

Postingan edisi belajar nulis Fiksi: *cerita ini hanyalah fiktif belaka, apabila ada yang ngaku-ngaku sama nama, karakter atau kisah hidupnya itu berarti bukan saia yang menyengaja loh ya*

Salam ketak-ketik “misteri dibalik layar” dari pojokan


TAGS Misteri Di Balik Layar

  • BENARKAH HEWAN KEPIK EMAS LANGKA dan MAHAL? Inilah Faktanya!

  • BENARKAH BUAH CIPLUKAN OBAT SEGALA PENYAKIT HINGGA HARGANYA SANGAT MAHAL?

  • SEBEL PULSA HABIS TANPA SEBAB? INILAH CARA TERMUDAH UNTUK STOP ATAU UNREG!

  • Ternyata Tak Semua Ulat Menjadi Kupu-Kupu, Lihat Perubahan Ulat Ini Kamu Pasti Kaget!

  • Menakjubkan! Ada Penampakan Wajah Ditubuh Laba-laba ini, Coba Lihat Menurutmu Ada Berapa Bentuk Wajah?

  • Kisah Angelina Sondakh Semakin Religius: Khatam Alquran Berkali-kali & Berjilbab

  • TEBAT WISATA TEBING BREKSI, COBA LIHAT ADA APA DISINI?

  • Habiskan 1 M, Ini Wajah Asli Nita Talia Sebelum dan Sesudah Operasi Plastik!

  • Pernah Bangkrut Baim Wong Tak Kapok Bisnis Jualan Mie Ayam Lagi

  • Waduh, Artis Pemeran Wiro Sableng Bangkrut Karena Narkoba dan Kini Jadi Petani

  • BAKPIA PRICESS CAKE MILIK SYAHRINI, Apakah Rasanya Secetar Pemiliknya?

  • Tutorial Jilbab Pashmina Gaya Ala Wanita Turki Hanya 3 Langkah Mudah Hasil Cantik Elegan!

  • Trik Pakai Jilbab Agar Wajah Terlihat Tirus, Hanya 3 Langkah Ayo dicoba!

  • 3 Langkah Mudah Pakai Jilbab Segiempat Simple Tapi Cocok Buat Semua Tipe Wajah

  • Tutorial Hijab Modern Khimar Instan Gaya Syar'i Hanya 3 Langkah Mudah Hasilnya Modis

  • 4 Langkah Mudah Pakai Jilbab Segi Empat Ala Laudya Cynthia Bella


  • -

    Search

    Author

    Widhawati
    Twitter @mbak_widha || Instagram @widhawatitok

    Recent Post